STAIN Terjemahkan Naskah 60 Tahun

Ketua club naskah klasik STAIN Pontianak memperlihatkan karya kuno yang akan diterjemahkan. Foto: TRIBUN PONTIANAK/ NASARUDIN

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Erwin Mahrus, dosen Sejarah Pendidikan Islam di STAIN Pontianak, merasa tertantang untuk mengungkap kiprah ulama-ulama Kalbar yang saat ini seolah tidak diperhitungkan. Ia bersama sejumlah dosen dan mahasiswa kemudian menerjemahkan sejumlah naskah klasik.

Sejarawan nusantara sangat sedikit menyebut Kalimantan Barat dalam penelitian maupun buku yang ditulis. Untuk wilayah Borneo, yang paling sering disebut hanya Kalimantan Selatan.

“Dampaknya, kiprah ulama di Kalimantan Barat tidak pernah muncul di permukaan. Padahal, banyak peninggalan- peninggalan Islam yang tersebar di Borneo Barat ini,” kata Erwin Mahrus, dosen STAIN, ketika dihubungi Tribunpontianak.co.id, di kediamannya di Pontianak, Senin (20/2/2012).

Bahkan, kata Erwin, Kalimantan Barat merupakan daerah yang memiliki kerajaan terbanyak di Indonesia dengan masing- masing memiliki ulama.

“Kalimantan Barat merupakan satu di antara provinsi yang kaya dengan warisan naskah-naskah keagamaan. Naskah ini ditulis oleh ulama seperti Maharaja Imam Sambas, Muhammad Basiuni Imran, dan Mufti Kerajaan Kubu, Ismail Mundu,” paparnya.

Melalui Club Naskah Klasik yang dibentuk bersama sejumlah dosen dan mahasiswa STAIN pada 15 September 2011, Erwin dan kawan-kawan meneliti dan menerjemahkan lembar demi lembar naskah hasil tulis tangan ulama Kalbar.

Menurut Erwin yang menjabat Ketua Club Naskah Klasik, naskah-naskah tersebut ditulis sekitar 50 hingga 60 tahun lalu. Bahasa yang digunakan Melayu dengan huruf Jawi.

Dengan umur seperti itu, kondisi fisik naskah menjadi rapuh. Padahal, naskah itu berisi informasi penting yang berkaitan dengan seluk beluk kepercayaan dan kehidupan saat itu. Satu di antaranya risalah yang ditulis Maharaja Imam Sambas, M Basiuni Imran, sekitar 1940.

Dalam surat yang dikirim untuk Sultan Pontianak pada waktu itu, Basiuni menyampaikan sarannya agar masyarakat bisa Salat Jumat di Masjid Masjid At-Taqwa Mariana, Jl Pak Kasih. Hal ini dikarenakan akses Masjid Jami’ Keraton cukup sulit untuk diakses.

“Basiuni memberikan alasannya terkait letak Masjid Jami’ yang harus menyeberang menggunakan sampan. Padahal, Sungai Kapuas besar dan anginnya kencang,” cerita Erwin.

Koordinator Digitalisasi dan Katalogisasi Club Naskah Klasik STAIN Pontianak, Junaidi, menambahkan, di antara naskah yang diteliti, ada beberapa hal yang patut untuk diperhatikan. Namun demikian, sebagian belum patut, mesti ada penyelidikan lebih jauh.

Junaidi mencontohkan naskah tulis tangan karya Mufti Kerajaan Kubu, Ismail Mundu, berjudul Amalan Nabi Allah Khidir. Naskah tersebut berisi amalan-amalan agar seseorang bisa berjalan di atas air seperti yang pernah dilakukan Nabi Khidir.

“Isinya zikir-zikir seperti tasbih, tahmid, takbir, serta lainnya. Menurut naskah tersebut, jika dibaca beberapa kali, kita bisa berjalan di atas air seperti yang pernah dilakukan Nabi Khidir,” ujar Junaidi.

Meski telah mengetahui amalan tersebut, Junaidi mengaku belum pernah mencobanya. Menurutnya, hal tersebut harus dikaji lebih jauh. Walaupun berisi semacam amalan, kita dapat mengetahui apa yang dilakukan masyarakat terutama ulama pada masa itu.

Terkait pengkajian isi naskah, Erwin mengaku tidak menemukan kendala yang berarti. Siapa saja yang bisa membaca Alquran, meski perlahan, pun bisa membacanya. Hanya ada beberapa kata yang mungkin tidak diketahui, kecuali oleh penduduk setempat.

“Ada beberapa kata yang memang asing. Misalnya kata ‘ramang’ yang tertulis di buku Basiuni Imran. Orang di luar Sambas mungkin tidak tahu, atau punya arti lain. Namun, dalam bahasa Sambas artinya awan,” tuturnya.

Erwin menambahkan, inventarisasi naskah yang mereka lakukan selama ini tidaklah semudah membalik telapak tangan. Beberapa orang menolak untuk meminjamkan naskahnya. Sementara yang lain, menolak dengan cara yang halus.

“Kita pernah melaksanakan inventarisasi naskah di Kabupaten Sambas. Informasi yang kita dapat ada beberapa rumah yang mempunyai koleksi naskah tersebut. Namun, setelah ditanya, dia menolak untuk melihatkan, apalagi meminjamkan,” cerita suami dari Zulfa ini.

“Orang tersebut beralasan, naskah yang ada padanya merupakan warisan dan keramat dari nenek moyang. Bahkan, orang tersebut mengaku menympan naskan di dalam peti,” tambahnya.

Penolakan halus juga pernah dialaminya. “Kita buat perjanjian, bahwa hanya boleh melihat halaman cover saja dan tidak boleh membuka-buka halaman berikutnya. Biasanya dikarenakan naskah tersebut berisi rahasia pribadi penulis,” paparnya.

Menurut Erwin hal ini terkait dengan pola pikir masyarakat yang sebagian masih tertutup. Padahal, naskah tersebut berisi khazanah keislaman yang jika tidak diekspose maka nilai serta manfaat yang ada, tidak akan diketahui khalayak ramai.

“Naskah itu kan berisi banyak hal. Mulai dari catatan pribadi penulis, masalah sosial kemasyarakatan, hingga terkait keislaman pada saat itu. Tentunya kalau dibiarkan begitu saja, tidak akan bermanfaat apa-apa,” kata Erwin.

Pembantu Ketua III STAIN Pontianak, Hermansyah, berharap, masyarakat dapat memberi akses dalam proses penelaahan naskah tersebut. Tentu, telaah tersebut dalam rangka melestarikan dan mengkaji karya ulama terdahulu.

“Kalau sudah dikajikan kita tahu manfaat yang bisa diambil dari naskah tersebut. Apalagi jika diterbitkan akan banyak yang tahu, manfaatnya pun akan dirasakan lebih banyak orang,” urai Penanggungjawab Club Naskah Klasik STAIN Pontianak tersebut. (Tribun Pontianak cetak)

Penulis: Nasaruddin
Sumber: Tribun Pontianak
Selasa, 21 Februari 2012 10:43 WIB
Diakses: 26 Februari 2012 | 13:56
Didokumentasikan: 26 Februari 2012 | 13:56