PENGKANG: Ketan Gurih dari Sungai Pinyuh

Foto: dherdian.wordpress.com

Datanglah ke Pondok Pengkang di Desa Peniti Luar, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat. Rasakan sensasi gurih paduan tekstur liat ketan dengan udang kering dalam penganan bernama pengkang.

Ketan, sejak lama menjadi primadona bahan dasar untuk pembuatan penganan. Teksturnya yang liat menyebabkan ketan bisa dibuat berbagai macam penganan, baik yang berasa manis maupun asin. Di Kalimantan Barat, pengkang menjadi salah satu makanan khas berbahan dasar ketan yang kini banyak diburu para pendatang.

Pengkang sebetulnya oleh orang Tionghoa digunakan untuk menyebut segala makanan yang dipanggang. Dan, pengkang yang ada di Kalimantan Barat ini juga memang dipanggang sebelum disajikan.

Rasa gurih ketan dan ebi menjadi makin nikmat karena aroma daun pisang yang meresap setelah dipanggang. ”Pengkang sebetulnya tidak jauh berbeda dengan lemper yang sudah dikenal banyak orang. Hanya saja, kalau lemper biasanya isinya daging ayam giling atau parutan kelapa, pengkang menggunakan udang kering dan masih harus dipanggang pula,” kata Haerany, pemilik Pondok Pengkang. Haerany adalah generasi ketiga pembuat pengkang.

Seperti lemper, bahan baku ketan juga harus dimasak dulu lalu diaduk dengan santan. Setelah diisi dengan udang kering dan dibungkus menggunakan daun pisang, pengkang lalu dikukus hingga masak.

Yang khas dari pembuatan pengkang adalah cara pemanggangannya. Dua bungkus pengkang yang sudah dikukus kemudian dijepit menggunakan bilah bambu yang setiap ujungnya diikat menggunakan bundung, sejenis tanaman menjalar yang tahan panas.

Sambal kepah
Pengkang makin khas karena Haerany memadukan penyajiannya dengan sambal kepah atau sambal kerang. Dijamin, rasa gurih yang berpadu dengan rasa sambal yang setengah pedas dan manis itu akan membuat Anda kembali memesannya setelah merasakan satu jepit pengkang.

”Sambal itu memang kreasi saya untuk menambah citarasa pengkang. Dulu, pengkang hanya menggunakan udang kecil basah sehingga daya tahannya hanya sehari. Dengan udang kering, pengkang masih bisa dimakan hingga tiga hari,” kata Haerany.

Sambal kepah sebetulnya lebih tepat disebut lauk. Pasalnya, daging kerang disajikan masih dalam bentuk utuh dan bisa dimakan terpisah. Harganya pun lebih mahal dibandingkan dengan pengkang yang menjadi sajian khasnya. Satu jepit pengkang hanya Rp 5.000, sedangkan satu porsi sambal kepah Rp 15.000. Namun, harga itu akan sepadan dengan kenikmatan yang terasa betah di lidah.

Pondok Pengkang berjarak 38 kilometer dari Kota Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat. Desa Peniti merupakan daerah lintasan dari Pontianak menuju Mempawah, Singkawang, dan Sambas.

Restoran ini biasanya padat pengunjung ketika hari-hari besar masyarakat Tionghoa, seperti Imlek, Cap Go Meh, dan Sembahyang Kubur atau Cheng Beng. Namun, pada libur-libur panjang, seperti Idul Fitri dan libur akhir tahun, restoran ini juga tak kalah padat.

”Hari-hari biasa paling habis 1.000 jepit per hari. Namun, kalau sedang libur bisa sampai 4.000 jepit, bahkan pernah sampai 10.000 jepit sehari,” kata Haerany. Jadi, jika Anda sedang mendarat di Pontianak, tak ada salahnya mampir ke Pondok Pengkang dan rasakan gurihnya ketan dan ebi dipadu dengan sambal kepah. Mmm….

Penulis: AGUSTINUS HANDOKO
Sumber: Kompas.com
Senin, 3 Mei 2010 | 15:24 WIB