PENGKANG DAN BURUNG PUNAI

Pada malam kedua kami berada di Pontianak, setelah menghadiri undangan seorang teman, kami jalan ke Mempawah, sebelah Utara Pontianak.

Dalam waktu kurang lebih satu jam perjalanan setelah melewati TUGU KHATULISTIWA, menuju kota Singkawang, atau Entikong, wilayah perbatasan RI dengan Serawak, Malaysia Timur.

Foto: dherdian.wordpress.comi

Terdapat RESTORAN PONDOK PENGKANG yang berada didaerah PENITI, SIANTAN dengan menu khas warga keturunan Tionghoa yaitu PENGKANG atau LEMPAR yang terbuat dari beras ketan dan diisi EBI, dibungkus daun pisang berbentuk kerucut dan selalu dihidangkan berpasangan (2 buah), diikat dengan bambu lalu di bakar.

Pengkang dan Sambal Kepah
Pengkang disajikan dengan SAMBAL KEPAH atau sambal kerang yang rasanya gurih, manis, pedas. Pengkang selalu dihidangkan dalam keadaaan hangat. Menurut kebiasaan masyarakat, Pengkang adalah ransum (makanan persediaan) jika ke hutan, karena Pengkang bisa tahan selama satu minggu bahkan lebih.

Menu ini terasa istimewa, apalagi malam itu hujan sepanjang hari (dari siang), jadi cuaca cukup dingin. Pengkang biasa disajikan bersama teh hangat tawar / tanpa gula yang menjadi ciri khas Kalbar.

Foto: dherdian.wordpress.com

Sepanjang jalan di daerah Peniti, Mempawah banyak orang yang menjual kepah dan lidah buaya yang menjadi primadona di daerah tsb.

Menurut informasi, Kepah banyak terdapat di rawa-rawa bakau di pesisir Kalbar. Cangkangnya berwarna putih polos, dengan daging yang lebih besar dan tebal. Sehingga terasa lembut ketika dimakan, tidak seperti kerang yang kita temui di Jakarta yang terasa lebih alot.

Pengkang dan Sambal Kepah Siap Santap
Makanan khas lainnya adalah BURUNG PUNAI digoreng atau dibakar. Katanya burung Punai mirip burung dara atau merpati, berwarna hijau dan berparuh kemerahan. Burung liar ini hidup berkelompok, sehingga bisa dengan mudah ditangkap dengan dijaring, dagingnya gurih, juga banyak ditemukan disekitar Pontianak dan Mempawah.

Foto: dherdian.wordpress.com

Malam itu karena hujan sepanjang hari, mungkin orang-orang enggan keluar rumah sehingga restoran ini hanya diisi olaeh rombongan kami (15 orang), tetapi kabarnya Restoran Pondok Pekang ini selalu banyak dikunjungi orang.

Sumber: dherdian.wordpress.com