Miris, Beginilah Kehidupan Warga Desa Pedalaman di Perbatasan RI-Malaysia

Dina Prihatini, Jurnalis · Kamis 08 Juni 2017 15:25 WIB

Kondisi Desa Laja Sandang, Empanang, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat di perbatasan RI-Malaysia (Dina Prihatini/Okezone)


PONTIANAK – Desa Laja Sandang, Kecamatan Empanang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat terpencil di balik hutan yang kini sudah berubah wujud jadi perkebunan kelapa sawit. Kehidupan warga di desa itu sungguh miris dengan segala keterbatasan infrastruktur.
Laja Sandang merupakan desa pedalaman Indonesia yang berada dekat perbatasan Malaysia. Untuk mengakses Laja Sandang harus menempuh sekira lima jam perjalanan darat dari ibu kota Kapuas Hulu, melewati jalan yang tak mulus di dalam hamparan kebun kelapa sawit terbesar di Kalimantan Barat.
Desa Laja Sandang sangat tertinggal dalam segi pembangunan. Jalan di sana belum tersentuh aspal, kecuali baru sekira 1 kilometer yang baru diaspal oleh perusahaan sawit. Jalan lainnya berupa tanah bercampur kerikil. Kalau musim hujan muncul kubangan di sana-sini, begitu juga kala cuaca panas, debu bertebaran.
Soal pelayanan kesehatan ada posyandu di simpang Desa Laja Sandang, namun warga banyak yang enggan membawa anaknya ke sana. Alasannya selain malas melewati jalan rusak juga faktor pendidikan yang minim. Puskesmas ada di Nanga Kantuk, desa tetangga.
Ihwal layanan pendidikan, di Laja Sandang hanya ada sekolah dasar (SD) dengan segala keterbasannya. Maka jika sudah tamat SD, banyak warga desa itu yang sulit melanjutkan pendidikan ke SMP bahkan SMA. Selain jarak yang sulit dijangkau, faktor ekonomi juga jadi penghalang.

Jalan menuju Laja Sandang (Dina/Okezone)


Maka tak heran, bila sudah selesai mengenyam pendidikan di SD, banyak warga Laja Sandang memilih meninggalkan desa mereka untuk mengadu nasib ke Malaysia.
“Hampir 98 persen warga sehabis tamat SD langsung cari kerja ke Malaysia,” kata Kepala Desa Laja Sandang, Valentinus Jali kepada Okezone, Kamis (8/6/2017).
Menurutnya, bekerja di Malaysia sudah jadi kebiasaan turun temurun warga Desa Laja Sandang mencari nafkah. Sehingga, jika ada orangtua yang merasa sudah mendapatkan pekerjaan di Negeri Jiran, maka mereka akan mengajak anak-anaknya mengikuti jejaknya.
“Kemungkinan juga dikarenakan di desa kami hanya ada SD saja,” jelasnya.
Namun belakangan, sejak maraknya tumbuh perkebunan sawit, kebiasaan warga di sana mencari nafkah ke Malaysia mulai berkurang, karena mereka mulai memilih kerja di perkebunan. “Mulai beberapa tahun ini seluruh warga setengahnya tidak lagi kerja di Malaysia karena sudah bisa bekerja sawit,” tutur Valentinus.
Dia berharap pemerintah mau memperhatikan pembangunan Desa Laja Sandang yang dihuni 657 kepala keluarga (KK). Pemerintah juga diminta menjamin pendidikan warga desa itu dan bagi mereka yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi agar diberi akses pekerjaan.
“Meski minim kami harap ada perhatian pemerintah terhadap warga kami,” pungkasnya.

Sumber: https://news.okezone.com/read/2017/06/08/340/1711035/miris-beginilah-kehidupan-warga-desa-pedalaman-di-perbatasan-ri-malaysia
Didokumentasikan: 04 Maret 2018 | 13:52 WIB