Menghidupkan Pusat Wisata Kuliner Pontianak

Pontianak – Gagasan cemerlang menghidupkan pusat wisata kuliner di Pontianak direspons positif dan penuh antusias oleh sejumlah pengusaha kuliner kaki lima. Mengubah sudut mati atau kawasan yang selama ini dianggap rawan dengan jajanan pasar dan masakan khas nusantara dibarengi pertunjukan kesenian.

“Agar menjadi salah satu ikon pariwisata dan menghidupkan sudut mati pada malam hari yang selama ini dianggap rawan di kota kita tercinta,” ungkap Paryadi SHut, Wakil Walikota Pontianak dalam diskusi, Sabtu (17/12) lalu di kediamannya bersama BPD Hipmi Kalbar, sejumlah pengusaha kuliner kaki lima, dan pelaku seni.

Dia menerangkan, sudut mati yang dimaksud adalah dari kawasan Pasar Cempaka (belakang Bank Kalbar), Pasar Kapuas Indah, sampai ke Dermaga Seng Hie. “Memang selama ini kawasan tersebut dianggap rawan, tapi dengan niat dan pemikiran yang positif kami yakin dapat berubah,” kata dia.

Dulu, kata Paryadi, kawasan tersebut menjadi sentra perdagangan. Jadi sebenarnya rencana upaya itu berarti menghidupkan kembali aktivitasnya, meyakinkan para pedagang mengenai keamanan kawasan tersebut dengan melibatkan pihak-pihak keamanan terkait dan juga mengakomodasi simpul-simpul keamanan serta tokoh masyarakat di sana.

Pemkot Pontianak, sambung pria yang cukup dekat dengan sejumlah komunitas pemuda di Pontianak ini, pada tahap awal penyelenggaraan Festival Kuliner dan Kesenian telah merancang 30-50 ruang untuk digunakan para pengusaha kuliner kaki lima. Nantinya, secara bertahap hingga mencapai ratusan pengusaha kuliner kaki lima yang membuka usahanya di sana.

“Kami akan memfasilitasi para pedagang di kawasan itu dengan jaminan keamanan, penerangan, dan pertunjukan kesenian. Kami juga akan menertibkan perparkiran di Taman Alun Kapuas yang sering menimbulkan kemacetan dan terhambatnya arus lalu lintas ke pelabuhan, untuk dialihkan ke kawasan tersebut,” ulas figur yang konsen memerhatikan sektor industri ekonomi kreatif dan pariwisata ini.

Jadi, lanjut dia, alun-alun itu difungsikan sesuai sebagai taman, dan ada kawasan parkir yang juga pusat kuliner dan kesenian di lokasi tidak terlalu jauh. Otomatis kawasan kuliner akan menjadi ramai.

Salah satu perwakilan dari paguyuban pengusaha kuliner kaki lima, Sri Cahyawati SH atau sering disapa Cahya, menyambut baik dan antusias untuk mendukung program Pemkot Pontianak tersebut.

“Kami menilai ini sangat positif. Pemkot (Pontianak, red) peduli terhadap kami. Bahkan turut memfasilitasi untuk menghidupkan pusat wisata kuliner dan kesenian di kota ini. Bapak Paryadi juga akan merangkul BUMN dan BUMD untuk ikut mendukung terciptanya program ini,” ujar Cahya selaku Sekretaris Paguyuban Pengusaha Kuliner Kaki Lima.

Gagasan tersebut juga didukung BPD Hipmi Kalbar. Mohamad Qadhafy selaku Kompartemen Industri Kreatif dan Media Massa Bidang-V BPD Hipmi Kalbar memaparkan, bidang usaha industri ekonomi kreatif saat ini mendapat prioritas untuk dikembangkan. Karena hanya industri kreatif yang tidak terpengaruh gejolak perekonomian dunia.

“Industri kreatif dapat berdiri sendiri. Apalagi sektor kuliner dan seni pertunjukan yang bersinggungan langsung efeknya ke masyarakat luas. Gagasan ini harus didukung semua pihak tanpa terkecuali, termasuk masyarakat Pontianaknya,” urai Davy, biasa dia disapa, yang dalam hal ini bertindak mewakili Ketua Umum BPD Hipmi Kalbar, Arief Kamatresna, dan Ketua Bidang-V BPD Hipmi Kalbar, Edy Zaidar.

Kuliner dan kesenian, menurut dia, merupakan pasangan yang tidak dapat dipisahkan. Setiap orang menonton pertunjukan seni, pasti membutuhkan kuliner untuk menikmati seperti di bioskop ataupun gelaran wayang. Begitu juga sebaliknya. Jadi banyak keuntungan dari keduanya.

“Dalam diskusi tadi, kami sudah membagi tugas. Gagasan cemerlang ini sepatutnya direspons berbagai pihak. Pemkot Pontianak akan memfasilitasi pusat wisata kuliner, melalui program event festival kuliner dan kesenian, dengan mengakomodasi masalah keamanan, lokasi, penerangan dan kesenian,” terang Ketua Umum Fokus Maker (Forum Komunikasi Mahasiswa Kekaryaan) Bakorda Kalbar ini.

Kawan-kawan Paguyuban Pengusaha Kuliner Kaki Lima, sambung Davy, akan merangkul sesama pengusaha bidangnya untuk menempati lokasi tersebut. Dan kami akan merangkul BUMN, BUMD, perusahaan-perusahaan swasta, juga media massa untuk mensosialisasikan dan promo mengenai program ini.

Peran serta masyarakat, imbuh dia, juga sangat penting. Sebagai contoh di Singkawang ada Pasar Hongkong, di Mempawah ada terminal, di Yogya, Solo, dan sejumlah kota besar lainnya rata-rata memiliki pusat jajanan pasar dan masakan khas daerah masing-masing. Untuk mewujudkan itu, masyarakatnya sangat mendukung. Makanya bisa tertib, aman, dan kondusif. Sektor pariwisata juga meningkat.

Kegiatan Festival Kuliner dan Kesenian ini akan digelar mulai 31 Desember mendatang, atau bersamaan dengan perayaan malam tahun baru masehi.

“Tadinya ada komunikasi yang terputus antara Pemkot Pontianak dengan kawan-kawan pengusaha kuliner kaki lima ini. Setelah kami mediasikan ternyata malah seiring sejalan. Ayo kita dukung dan sukseskan upaya menghidupkan pusat wisata kuliner dan kesenian ini di Pontianak,” tuntas imbau Davy. (jul/hn)

Sumber: Equator-news.com
Kamis, 22 Desember 2011
Diakses: 29 Desember 2011 | 20:41
Didokumentasikan: 29 Desember 2011 | 20:41