Kronologis proses terbentuknya masih samar, namun masih sedikit bisa ditelusuri. Jejak dalam bentuk bangunan, situs-situs dan cerita tertulis tak lagi ditemukan.
Kerajaan Simpang merupakan salah satu situs peninggalan sejarah yang cukup terkenal di Kalbar. Kerajaan ini terbentuk karena perpaduan (perkawinan) antara keturunan Kerajaan Ulu Aik dan Kerajaan Tanjungpura.

Kerajaan Ulu Aik bermula dari kehidupan masyarakat suku Dayak di hulu Sungai Keriau di Beginci Hulu Air. Rajanya bernama Siak Bulun (Siak Bahulun) yang mempunyai tujuh orang anak angkat, Putri Dara Pelimbung, Putri Dara Pengumpat, Putri Suwuk Palunyap, Sadung (laki-laki), Putri Dayang Bepurung, Putri Layung, dan Putri Layang Putung (yang kemudian berganti nama menjadi Putri Junjung Buih). Dari keturunan Putri Junjung Buih inilah lahir raja-raja Kerajaan Tanjungpura dan raja-raja di Kerajaan Kalimantan Barat.

Sedangkan Kerajaan Tanjungpura merupakan salah satu kerajaan tertua di Kepulauan Kalimantan yang kedudukannya disejajarkan dengan kerajaan-kerajaan lainnya di Nusantara.

Keberadaan kerajaan ini terdapat dalam Negarakartagama karangan Mpu Prapanca pada masa Kertanagara (1268 – 1292) dari Singosari dan pada masa Kerajaan Majapahit dengan Sumpah Palapa Patih Mangkubumi Gajah Mada (1258 Saka atau 1336 M).

Sekretaris Kerajaan Simpang, Gusti Muhammad Huzra menceritakan, penduduk asli Kalbar ialah suku bangsa Dayak dan suku bangsa Melayu. Suku Dayak lebih dahulu menghuni daerah ini bermukim di daerah pedalaman dan hulu anak-anak sungai.

“Kemudian datang suku Melayu dari Riau dan Semenanjung Malaka menempati daerah-daerah pantai, pesisir, dan aliran-aliran sungai,” ujar Huzra saat bertandang ke Graha Pena Harian Equator, Rabu (29/12).

Menurut Huzra, Kerajaan Tanjungpura merupakan kerajaan yang melahirkan Kerajaan Simpang. Namun kronologis proses lahirnya kerajaan tersebut belum bisa diungkapkan secara pasti, termasuk soal Kerajaan Tanjungpura.

P J Veth dalam bukunya Borneo’s Weater Afdeling, Eerste Deel, yang diterbitkan pada tahun 1854, mengalami kesulitan mendapatkan peninggalan sejarah yang banyak untuk memberikan pemahaman lengkap tentang Tanjungpura.

Bahkan untuk menjelaskan tentang adanya hubungan Tanjungpura dengan keturunan Brawijaya, P J Veth mengambil cerita rakyat, tanpa adanya bukti tertulis yang autentik, namun terus hidup di kalangan masyarakat (Tanjungpura Berjuang, 1970:27).

Para sejarawan menghadapi kesulitan untuk mengungkap secara lengkap tentang Kerajaan Tanjungpura tersebut. Hal ini disebabkan benda-benda peninggalan yang merupakan sumber yang dapat memberikan keterangan tidak didapati lagi bekas bangunan kerajaan, monumen atau candi-candi, serta situs-situs lainnya, begitu pula dengan catatan-catatan tertulis yang dapat mendukung kebenaran dari cerita-cerita rakyat yang dikisahkan secara turun temurun dari mulut ke mulut.

Selain itu kurangnya pemeliharaan terhadap sisa-sisa peninggalan dan situs-situs yang masih ada menyebabkan banyaknya benda-benda peninggalan yang rusak dan hilang, seperti yang terjadi pada situs Kerajaan Matan di Sungai Matan (hulu Sungai Melano), yang sejak tahun tujuh puluhan menjadi sentralisasi pembalakan hutan.

Penyuntingan sekilas ini tidaklah mungkin dapat memaparkan semuanya secara keseluruhan baik tentang kerajaan, raja-raja, maupun keturunannya. Namun, paling tidak hal ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang sejarah yang ada di daerah Kalimantan Barat. (bersambung)

Sumber: http://www.equator-news.com/utama/box/kerajaan-simpang-perpaduan-ulu-aik-dan-tanjungpura
Jumat, 31 Desember 2010