Kearifan Lokal: Potret Pengelolaan Hutan Adat di Sungai Utik, Kapuas Hulu

Hutan_Sungai_Utik_Kapuas_Hulu
Pengantar
Mengunjungi Sungai Utik adalah sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Bagaimana tidak?, perjalanan ke Sungai Utik bisa dibilang tidak mudah dan membutuhkan stamina yang prima. Ini dikarenakan sepanjang perjalanan baik lewat udara, darat maupun sungai tetap saja akan terguncang-guncang. Saya cukup beruntung mendapat kemudahan menumpangi pesawat Deraya Air Service, paling tidak lebih menghemat waktu cukup lumayan karena dari Pontianak ke Putu Sibau hanya membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Hal ini jauh lebih cepat dibandingkan dengan jalan darat yang bisa 2 hari atau melalui Sungai Kapuas yang bahkan bisa mencapai 1 minggu dengan menumpang bandung (perahu motor).

Hanya saja pemandangan hutan tropis basah di kanan kiri jalan menuju Sungai Utik dari Putussibau cukup menyejukkan dan menghibur. Meskipun sesekali kita akan menghela napas atau mengurut dada menemui balok kayu bertumpuk-tumpuk di pinggir jalan, yang merupakan kayu hasil sitaan dari operasi pemberantasan illegal logging.
.
Dari Putussibau ke Sungai Utik kira-kira dibutuhkan waktu tempuh 3-4 jam tergantung cuaca dan kondisi jalan. Kami cukup bersyukur, karena guyuran hujan deras yang mengiringi perjalanan kami ke Sungai Utik hanya berlangsung sebentar, sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap kondisi jalan yang kami lalui. Menjelang sore kami sampai di Sungai Utik dan pemandangan pertama yang mengesankan adalah sebuah rumah panjang (rumah panjae) yang menakjubkan serta beberapa dump truck excavator/back hoe, dan buldozer parkir disamping rumah panjang.

Sungai Utik secara administratif berada di Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Di bagian utara Sungai Utik berbatasan langsung dengan Serawak sedangkan di bagian timur berbatasan dengan propinsi Kalimantan Timur, bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Sintang.

Gambaran Umum
Sungai Utik secara adat merupakan bagian dari Ketemenggungan Jalai Lintang, sementara wilayah Ketemenggungan Jalai Lintang sendiri selain Sungai Utik meliputi Kulan, Ungak, Apan dan Sungai Tebelian. Komposisi demografi masyarakat di Sungai Utik mayoritas adalah Dayak Iban, demikian pula di Ketemenggungan Jalai Lintang. Masyarakat Dayak Iban di Jalai Lintang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, baik lahan kering (umai pantai) ataupun lahan basah (umai payak).

Merekapun masih menjalankan ritual adat yang berkaitan dengan relasi antar manusia (kelahiran, perkawinan dan kematian) maupun relasi antara manusia dengan alam (adat ngintu menua, adat bumai, membuat rumah, tanah mali dan kampong mali). Relasi antara manusia dengan alam menjadi penting di sini karena mendasari pandangan dan filososfi Masyarakat Dayak Iban dalam mengelola sumber daya alam dan manfaat bagi kehidupan mereka.

Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah Adat Sungai Utik, Ketemenggungan Jalai Lintang

Konsep Pembagian Kawasan Hutan Adat
Keberadaan hutan adat di masyarakat Dayak Iban Sungai Utik merupakan hal yang sangat penting. Guna menjaga keseimbangan dan manfaat yang berkelanjutan dari relasi antara manusia dengan alam maka dalam adat Dayak Iban berkembang konsep pembagian hutan adat. Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik membagi tiga kawasan hutan adatnya, yaitu:

Kampong Taroh
Kawasan hutan yang tidak boleh ada kegiatan perladangan, mengambil/menebang kayu. Kampong Taroh adalah kawasan hutan lindung adat, di tujukan untuk melindungi mata air dan perkembangbiakan satwa. Tempat yang merupakan Kampong Taroh biasanya berada di hulu-hulu Sungai.

Kampong Galao
Merupakan kawasan hutan cadangan. Kegiatan di dalam kawasan ini yang diperbolehkan adalah mengambil tanaman obat, mengambil kayu api dan membuat sampan. Pemanfaatan hutan ini sangat terbatas dan diawasi sangat ketat, bahkan terdapat sanksi adat jika melakukan pelanggaran di kawasan ini.

Kampong Endor Kerja
Merupakan kawasan hutan produksi di mana hutan ini ditujukan untuk fungsi produksi dan dikelola secara adil dan berkelanjutan. Dikawasan ini boleh diambil kayunya dengan syarat diameter kayu yang di ambil di atas 30 cm.Selebihnya kawasan hutan ini juga difungsikan sebagai sumberbibit.

Mengembangkan inisiatif pengelolaan hutan adat
Melihat ancaman dan tekanan terhadap keberadaan hutan di Sungai Utik maka tidak berlebihan jika kemudian muncul berbagai macam strategi untuk mempertahankan hutan adat. Masyarakat Dayak Iban di Sungai Utik bersama beberapa lembaga lokal (PPSHK, LBBT, Pancur Kasih) mengembangkan beberapa inisiatif dan alternatif untuk menjawab ancaman dan tekanan tersebut termasuk pengakuan atas hak masyarakat adat terhadap tanah adat dan praktek pengelolaan hutan yang berkelanjutan.

Sinergi yang dibangun antar lembaga lokal yang bekerja di Sungai Utik memberikan dampak yang positif kepada masyarakat Dayak Iban, antara lain:

Bersama dengan Pancur Kasih
Mengembangkan usaha Credit Union atau dikenal dengan istilah CU. Hal ini dikembangkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat dan mengurangi tekanan internal terhadap hutan adat.

Bersama dengan LBBT
Mengembangkan inisiatif untuk membangun dan memperkuat kedudukan masyarakat Dayak Iban Sungai Utik secara politis. Inisiatif yang dilakukan adalah melakukan studi identifikasi Hak Ulayat Masyarakat Adat Sungai Utik dan sekitarnya. Dari inisiatif ini melahirkan sebuah hasil studi dan juga sebagai bahan penyusunan draft perda, yang mengakui keberadaan masyarakat Sungai Utik beserta wilayah adatnya.

Bersama PPSHK Kalbar
Masyarakat di Sungai Utik telah memulai dari beberapa tahun yang lalu mengembangkan kegiatan yang terfokus pada pengelolaan sumber daya hutan. Kegiatan yang berkembang di mulai dari peta partisipatif wilayah adat, perencanaan kawasan serta mengembangkan industri meubel. Pemikiran pengolahan hasil hutan menjadi produk akan memberikan keuntungan lebih bagi masyarakat, tidak sekedar mendapatkan pengakuan atas wilayah danbentuk pengelolaan menurut adat.

Bersama AMAN dan PPSHK
Masyarakat Sungai Utik bersama AMAN dan PPSHK Kalbar mencoba memperluas cakupan manfaat tidak hanya secara politis dan ekonomi, namun hingga manfaat ekologis dan keterampilan dalam aspek pengelolaan hutan dengan merujuk prinsip-prinsip kelestarian melalui inisiatif community logging.

Inisiatif yang dilakukan di Sungai Utik didasarkan pada potensi sumber daya alam/hutan yang masih bagus, masyarakat adatnya yang masih menjaga nilai-nilai pengelolaan sumber daya hutan yang berorientasi kelestarian serta potensi dan kapasitas lembaga pendamping. Pada akhir kegiatan community logging ini, diharapkan produk dari model Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat(PHBM) di Sungai Utik dan produksinya akan diakui pasar melalui skema sertifikasi pengelolaan hutan dari Lembaga Ekolabel Indonesia(LEI).

Pengelolaan dan Peruntukan Kawasan Di Sungai Utik, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat
1. Rumah Panjae
Merupakan kawasan pemukiman penduduk.
2. Taba’
Kawasan yang ditunjuk/dipilih sebagai lokasi rumah panjae.
3. Temawai
Adalah kawasan bekas lokasi rumah panjae atau pondok (langkau).
4. Damun
Kawasan bekas ladang yang sifat kepemilikannya adalah individual dan bisa diwariskan.
5. Tanah Mali
Kawasan hutan yang tidak boleh dibuka untuk areal perladangan. Segala sesuatu yang ada didalam tidak boleh dipungut atau diambil.
6. Kampong Puang
Kampong Puang merupakan hutan yang dimiliki secara kolektif oleh Masyarakat Dayak Iban
7. Pendam
Kawasan khusus untuk pekuburan.
8. Penganyut Aek
Diperuntukan dan dikelola sebagai sumber (mata) air, dengan lokasi disepanjang aliran sungai.
9. Pulau
Kawasan sebagai hutan cadangan karena kekhususannya, misal: pulau buah, dan pulau tapang, status kepemilikan bisa individu/kolektif.
10. Hutan Simpan
Kawasan Hutan adat yang dilindungi sebagai hutan cadangan dan dimiliki secara kolektif.
11. Redas
Areal yang diperuntukan untuk kebun (tanaman sayur- sayuran).
12. Tapang Manye
Pohon Madu (merupakan kepemilikan individu penemu pohon dan bisa diwariskan).
13. Tanah Kerapa
Kawasan lahan basah atau tanah rawa yang biasanya juga diperuntukkan sebagai lahan perladangan (Umai Payak).
14. Tanah Endor Nampok
Wilayah keramat untuk bertapa.
15. Umai
Diperuntukkan sebagai areal ladang, biasa disebut sebagai Umai Pantai.

Catatan:
Tulisan ini bersumber dari Buletin Intip Hutan Edisi I-06/Januari-Februari 2006, berjudul: Kearifan Lokal: Potret Pengelolaan Hutan Adat di Sungai Utik, Kapuas Hulu. Ditulis oleh Yuyun Indradi,
DTE Indonesia/Anggota FWI Bogor. Didokumentasikan oleh Badan Perpustakaan, Kearsipan dan Dokumentasi Provinsi Kalimantan Barat untuk kepentingan pendidikan, penelitian, dan pelestarian kebudayaan/kearifan lokal.