Jumpa Leluhur Lewat Mimpi

Cara mencari pertanda atau firasat biasanya dapat melalui suara-suara burung yang dipercaya sebagai pembawa pesan.

RITUAL MENAFSIR MIMPI – Seorang tetua adat memimpin ritual Nyengkelan Tanah. Ini merupakan ritual adat yang digelar setahun sekali untuk meminta berkat kesuburan tanah yang akan mereka ladangi. Masyarakat Dayak Kantuk masih mempercayai firasat mimpi untuk menentukan hari baik berladang. Fotografer: Muniroh

RITUAL MENAFSIR MIMPI – Seorang tetua adat memimpin ritual Nyengkelan Tanah. Ini merupakan ritual adat yang digelar setahun sekali untuk meminta berkat kesuburan tanah yang akan mereka ladangi. Masyarakat Dayak Kantuk masih mempercayai firasat mimpi untuk menentukan hari baik berladang. Fotografer: Muniroh

PONTIANAK – Masyarakat Dayak di Kalimantan sangat percaya bahwa roh-roh leluhur dapat berinteraksi dengan mereka yang masih hidup. Interaksi dengan roh biasanya dilakukan saat masyarakat melakukan ritual adat untuk meminta permohonan tertentu, atau harapan agar dijauhkan dari segala musibah, bencana, dan marabahaya.

Selain melalui ritual adat tertentu, orang-orang Dayak percaya bahwa mereka dapat berinteraksi dengan roh-roh leluhur di alam mimpi. Pertemuan tersebut bahkan dianggap sebagai pertemuan yang sangat berarti. Biasanya roh leluhur yang datang di alam mimpi menyampaikan sebuah pesan bagi mereka yang masih hidup.

Kepercayaan akan roh leluhur yang datang melalui mimpi sampai saat ini masih dipertahankan. Salah satunya adalah saat masyarakat suku Dayak akan memilih sebuah lokasi atau lahan untuk berladang.

Bagi orang-orang Dayak kebanyakan, setelah menemukan lahan yang akan digunakan untuk berladang, maka lahan tersebut tidak boleh langsung diladangi begitu saja.

Sebelum lahan ditanami, dibutuhkan pertanda dan firasat, ataupun semacam peringatan untuk memastikan apakah lahan dipilih akan memberikan panen yang baik atau justru tidak menghasilkan.

Bahkan orang-orang Dayak percaya jika pertanda tersebut tidak diindahkan, maka bukan hanya gagal panen saja yang dialami. Lebih jauhm bisa saja hal itu malah mendatangkan bencana bagi orang yang berladang di lahan tersebut.

Saat ditemui SH di kediamannya, di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mantan wakil gubernur Kalimantan Barat yang juga berdarah Dayak Kantuk, Laurentius Herman Kadir, mengatakan, cara mencari pertanda atau firasat biasanya dapat melalui suara-suara burung yang dipercaya sebagai pembawa pesan.

Selain itu, pertanda dan firasat sangat diyakini dapat datang dari leluhur melalui interaksi di alam mimpi. “Namun saat ini keberadaan burung-burung pembawa pesan semakin sulit ditemukan. Karena itu cara yang sampai saat ini paling banyak digunakan untuk mencari firasat adalah melalui mimpi,” ujar pria yang akrab disapa Kadir ini.

Ia menambahkan, kepercayaan masyarakat Dayak untuk mencari firasat melalui mimpi sudah berlangsung sangat lama, sejak mereka mengenal sistem berladang untuk pemenuhan kebutuhan pangan.

Ia menjelaskan, kepercayaan orang Dayak terhadap mimpi dikarenakan adanya pemahaman bahwa roh manusia akan meninggalkan tubuhnya saat mereka tertidur. Saat itulah, lanjut Kadir, roh manusia yang hidup bertemu dengan roh-roh leluhur mereka yang akan memberikan pertanda

“Roh manusia yang tengah tertidur dapat bertemu dengan siapa saja, bisa itu roh-roh penguasa alam, ataupun roh leluhur. Interaksi antara manusia dengan roh leluhur itu biasanya terekam dalam mimpi,” terang Kadir.

Menurutnya, interaksi dengan roh leluhur tidak hanya terekam dalam bentuk komunikasi langsung di alam mimpi. Interaksi tersebut bisa saja dalam bentuk peristiwa-peristiwa terkait dengan kesialan atau keberuntungan.

Jika peristiwa yang terekam di alam mimpi merupakan peristiwa yang sial, maka itu artinya ladang yang telah dipilih akan memberikan kesialan atau bahkan bencana.

Sebaliknya, jika peristiwa yang terekam di alam mimpi adalah peristiwa yang menguntungkan, maka lahan yang sudah dipilih dipastikan baik dan memberikan keberuntungan.

“Misalkan mimpi kesal, atau dikejar binatang atau situasi kita di dalam mimpi itu sedang bahaya, itu artinya ladang tidak direstui oleh leluhur,”jelasnya.

Kepercayaan orang Dayak untuk menunggu pertanda ini, sudah dijalani sangat lama. Umumnya orang Dayak mulai mencari atau membuka lahan pada bulan April, namun karena masih harus menunggu pertanda dan mencari firasat melalui mimpi, aktifitas berladang biasanya baru dimulai pada bulan Juli.

Proses memilih lahan yang baru seperti ini bisa berulang-ulang. Ini yang membuat prosesnya cukup lama.

Sumber: Sinar Harapan, Jenda Munthe – Selasa, 09 Juli 2013 | 10:57:00 Wib
Diunggah: Jumat, 06 Desember 2013 | 15:42 WIB