TEMPO Interaktif, Pontianak – Profesi resminya adalah dokter gigi. Tapi, bagi warga desa-desa di sekitar Taman Nasional Gunung Palong, Kalimantan Barat, Hotlin Ompusungu juga mantri lingkungan. Selain telaten menyarankan agar warga memeriksakan kesehatan gigi, dokter lulusan Universitas Sumatera Utara pada 1998 itu giat mengajak warga menanam pohon dan menjaga lingkungan.

“Kami yang berobat bisa membayar pakai apa saja. Terkadang bibit, pupuk kandang, kulit padi, atau ayam,” kata Nur Islamiah, 39 tahun, pemilik warung tak jauh dari Klinik Alam Sehat Lestari (Asri).

Andai warga tak punya apa-apa pun tetap mendapat pelayanan yang sama. Tak pernah dokter atau stafnya datang menagih ke rumah warga. “Tapi kami orang kampung, masak sudah dibantu mau lari. Kalau besok-besok sakit kan bisa malu,” kata Tarjudin, 49 tahun, warga Desa Mentubang, Kecamatan Melanau.

Klinik Yayasan Asri di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, yang melayani warga selama 24 jam itu berdinding semen dan berlantai kayu. Andai tak ada papan bertulisan “Yayasan Asri” di halaman depan sebelah kanan, sepintas bangunan itu seperti rumah tinggal biasa. Saat Tempo bertandang, Rabu siang pekan lalu, beberapa sepeda dan sepeda motor terparkir di halaman yang tinggi rumputnya sudah melewati mata kaki.

Klinik itu dibentuk atas prakarsa Hotlin dan dua sejawatnya, Dr Kinnari Webb (dokter keluarga asal Amerika Serikat) dan dr Romi Beginta. Atas perannya itu, Hotlin, yang dilahirkan di Siguri-guri pada 19 Juli 1974, memperoleh penghargaan Whitley Award 2001 dari The Royal Princess, Putri Anne, dari Kerajaan Inggris, April lalu. Menurut BBC, The Whitley Fund for Nature, sebuah badan amal di Inggris, yang didirikan 18 tahun lalu, sejauh ini telah menghibahkan lebih dari 6 miliar pound sterling untuk mendukung upaya konservasi.

Saat tiba di Sukadana pada 2007, Hotlin dan kawan-kawan melihat banyak warga di pinggiran taman nasional selama bertahun-tahun terbiasa menebang kayu demi menyambung hidup. Akibatnya, sejak 1988 sampai 2002 diperkirakan 38 persen lahan hutan taman nasional itu berkurang. Padahal hutan seluas 90 ribu hektare tersebut merupakan habitat orang utan dilindungi, yang jumlahnya diperkirakan tinggal 2.500 ekor.

Berangkat dari kondisi itulah, ketiga dokter tersebut berupaya melakukan pendekatan kreatif dan inovatif yang melibatkan banyak pihak, antara lain memadukan upaya menjaga dan membangun kesehatan warga dengan partisipasi konservasi lingkungan. “Jadi kami mempersilakan warga mau membayar dengan cara tukar barang atau dengan cara tukar kerja,” ujar Hotlin, yang pernah bertugas di Siak, Riau, dan menjadi penanggung jawab Klinik Terapung Musi, Sumatera Selatan.

Warga yang diketahui aktif terlibat dalam kegiatan reboisasi yang diprakarsai oleh Asri, tidak lagi menebang atau membakar hutan, akan mendapat rabat bila datang berobat. “Kami sudah tanam bibit pohon untuk reboisasi seluas 10 hektare,” ujar Hotlin.

Selain itu, sejak beberapa waktu terakhir, telah dirintis upaya pemberian hewan ternak kepada warga agar tak bergantung pada hutan. Sebab, hanya warga yang punya aset seperti kambing, sapi, atau kerbau yang biasanya hidup tanpa harus merusak alam. Sejauh ini mereka telah memberikan 67 ekor kambing kepada 35 orang janda di tujuh desa yang tinggal di kawasan pinggiran Taman Nasional Gunung Palung.

Untuk mempermudah upaya konservasi, Hotlin dan kawan-kawan menjalin kerja sama dengan 21 desa dan membentuk 10 kelompok tani organik. Selama tiga tahun terakhir, tercatat 18 ribu pasien memanfaatkan jasa layanan kesehatan di Asri. “Saya akan gunakan hadiah 30 ribu pound sterling untuk subsidi kesehatan bagi warga yang telah menjaga hutan,” ujarnya.

Penulis: HARRY DAYA
Sumber: Tempointeraktif.com
Senin, 13 Juni 2011 | 13:54 WIB