“Betaban”, Perjuangan Cinta yang Dilindungi Adat

Dalam masyarakat Dayak Kantuk, kawin lari direstui oleh adat. Pasangan yang jatuh cinta dipersilahkan untuk memperjuangkan cinta mereka meski tanpa restu orang tua.

PONTIANAK – Cinta datang tanpa pernah diminta, tanpa pernah memilih kepada siapa ia datang. Ketika ia datang, maka panahnya menghujam langsung ke bagian terdalam di ruang hati.

Sayangnya terkadang tidak semua dapat menerima keberadaannya. Mereka yang jatuh dalam pelukan cinta belumlah tentu dapat memanifestasikan cinta mereka hingga ke jenjang pernikahan.

Terkadang, tidak adanya restu dari orang tua membuat mereka yang saling mencintai harus menelan kecewa.

Meski begitu, bagi mereka yang menganggap cinta adalah yang utama, restu orang tua tak bisa menghalangi dari keinginan menikah.

Istilah yang dikenal dengan sebutan kawin lari ini pun cukup dikenal masyarakat Indonesia. Bagi suku Dayak Kantuk, kawin lari bukanlah sesuatu yang tabu. Bagi suku ini, pasangan yang jatuh cinta dipersilahkan untuk memperjuangkan cinta mereka meski tanpa restu orang tua.

Menariknya, pasangan yang ingin tetap menikah tanpa restu diperbolehkan untuk pergi meninggalkan orang tua mereka dan melangsungkan pernikahan yang dilindungi oleh adat.

“Bagi suku kami, kawin lari tanpa restu orang tua adalah sah. Pernikahan yang dilangsungkan pun dilindungi oleh adat,” ujar mantan Wakil Gubernur Kalimantan Barat yang juga berdarah Dayak Kantuk, Laurentius Herman Kadir, saat ditemui SH di rumahnya, Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (27/6). Istilah kawin lari bagi suku Dayak Kantuk dikenal dengan sebutan Betaban.

Beban Pemangku Adat
Dijelaskannya, perlindungan adat langsung berlaku kepada pasangan yang akan menikah begitu pasangan tersebut menemui pemangku adat di desanya. Setelah pasangan meninggalkan rumahnya masing-masing dan masuk ke rumah pemangku adat, orang tua mereka tidak boleh mencampuri niatan mereka itu.

“Sistem betaban seperti ini sudah kami jalani selama ini, dan kami tidak menganggap ini tabu, bahkan boleh dikatakan terhormat,” jelas pria yang akrab disapa Kadir ini.

Nantinya, lanjut dia, pemangku adat yang ditemui pasangan itu akan mengurus biaya pernikahan mereka. Namun  bisa saja pemangku adat menemui orang tua masing-masing pasangan dan meminta partisipasi untuk biaya pernikahan.

Jika orang tua pasangan tetap tidak bersedia untuk memberikan sumbangsih biaya pernikahan, pemangku adat yang akan menanggung itu semua, dan pernikahan pun siap untuk dilaksanakan. “Kalaupun rumah orang tua pasangan itu dekat, pernikahan tetap digelar di rumah pemangku adat,” terangnya.

Setelah pernikahan dijalankan, pasangan pengantin diperbolehkan tinggal di rumah pemangku adat untuk waktu tertentu. Biasanya pada tahap ini orang tua pengantin ada yang luluh dan mengizinkan anaknya pulang ke rumah. Namun jika orang tua masih keras hati dan tidak mengizinkan anaknya kembali, maka pasangan tersebut akan tinggal di rumah pemangku adat, sampai dirasa mampu tinggal di rumah mereka sendiri.

Sumber: Sinar Harapan, Jenda Munthe – Jumat, 05 Juli 2013 | 10:28:00 Wib
Diunggah: Senin, 16 Desember 2013 | 09:30 WIB