Arsitektur Cetiya Dewi Samudera Singkawang Kalimantan Barat

Puji Sulani
Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang Banten
pema_sirini@yahoo.co.id

This research is a religious archaeology using contextual interpretative archaeological approach. The purpose of this study was to describe the architecture and utilization of the Dewi Samudera Cetiya Singkawang West Kalimantan. Stage of research conducted by collecting, processing, and analyisis of data using shapes analysis and contextual analysis. The result of this study is that Dewi Samudera Cetiya Singkawang West Kalimantan with three space-type siheyuan built in 1873. The construction of the cetiya is follow general rules of Chinese architectural and feng shui rules. Ornament building patterned fauna, flora, people atau character, symbols geometric motifs objects and natural phenomena. Architecture exist which indicate that the general rule of Chinese architecture, feng shui, and ornamentation of the building is still maintained by the board Dewi Samudera Cetiya Singkawang West Kalimantan.
Keywords: Architecture, feng shui, Dewi Samudera Cetiya, Singkawang.

Penelitian ini merupakan penelitian arkeologi religi dengan meng-gunakan pendekatan arkeologi kontekstual interpretative. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan arsitektur dan pemanfaatan Cetiya Dewi Samudera Singkawang Kalimantan Barat. Tahapan penelitian dilakukan dengan pengumpulan, pengolahan, dan analisis data menggunakan analisis bentuk dan analisis kontekstual. Hasil penelitian ini adalah bahwa Cetiya Dewi Samudera Singkawang Kalimantan Barat dengan tiga ruang bertipe siheyuan dibangun pada tahun 1873. Pembangunan cetiya mengikuti sebagian aturan umum arsitektural Cina dan aturan feng shui. Ornamen bangunan bermotif fauna, flora, orang atau tokoh, lambang geometris, motif benda, dan fenomena alam. Arsitektur yang ada menunjukkan bahwa aturan umum arsitektur Cina, fengshui, serta ornamen bangunan masih dipertahankan oleh pengurus Cetiya Dewi Samudera Singkawang Kalimantan Barat.
Kata kunci: Arsitektur, Fengshui, Cetiya Dewi Samudera, Singkawang

Pendahuluan
Kota Singkawang memiliki bangunan kelenteng bersejarah dengan arsitektur dan ornamen khas Tiongkok yang tersebar di berbagai sudut kota dan desa. Pesebaran kelenteng-kelenteng tersebut menggambarkan bahwa rumah ibadah memiliki arti penting dan berperan bagi masyarakat etnis Tionghoa dalam melakukan aktivitas keagamaan, khususnya di Kota Singkawang. Keberadaannya sejak dulu hingga kini menunjukkan pula fungsinya yang masih berlanjut sampai sekarang. Kelenteng merupakan istilah bahasa Indonesia untuk menyebut rumah ibadah masyarakat etnis Tionghoa dalam melaksanakan ibadah sembahyang kepada Tuhan, nabi-nabi, serta arwah-arwah leluhur yang berkaitan dengan ajaran Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme. Kelenteng disebut juga dengan Lithang, Miao (Bio), Kongzi Miao, Koan, Guan, Gong, Kiong, Sie atau Si dan Kongcu Bio. Miao, atau Bio menurut Lombard dan Salmon dalam Erisca merupakan istilah untuk kelen-teng Konfusianis dan Taois, sedangkan Sie atau Si istilah untuk Kelenteng Vihara Buddhis. Koan atau Guan untuk biara Taois dan Kiong atau Gong untuk kelenteng Taois3. Istilah Kelenteng berasal dari suara klinting-klinting atau klonteng-klonteng dari bangunan suci tersebut ketika sedang ada ritual.

Rumah ibadah agama Buddha di Indonesia terdiri dari kelenteng, vihara, cetiya dan arama yang memiliki model arsitektur berbeda-beda sesuai zamannya. Vihara adalah tempat viharawan atau viharawati mengatur hidup dan kedisiplinan, tempat mengadakan pertemuan, belajar, dan mendiskusikan Dharma. Cetiya merupakan tempat ibadah agama Buddha yang dahulu dikenal sebagai chaitya dengan fasilitas altar. Arama awalnya merupakan taman yang disamaartikan dengan vihara, biara dan sangharama. Penggunaan istilah kelenteng dalam hal ini adalah rumah ibadah etnis Tionghoa sekte Tri Dharma yang kemudian disebut vihara atau cetiya.

Salah satu rumah ibadah bersejarah agama Buddha di Singkawang adalah Cetiya Dewi Samudera atau Cetiya Tri Dharma Bumi Raya yang terletak 1 KM dari Vihara Tri Dharma Bumi Raya Pusat Kota di wilayah Singkawang Barat. Sebutan cetiya dan vihara terhadap rumah ibadah dalam kajian ini mengacu pada cetiya dan vihara yang memiliki arsitektur khas China. Bangunan Cetiya Dewi Samudera yang berarsitektur Tiongkok tersebut terbuat dari kayu belian, berornamen sederhana, berlapis cat dengan warna tidak mencolok. Bangunan cetiya menghadap ke arah bekas pelabuhan Singkawang serta Vihara Tri Dharma Bumi Raya Pusat Kota sebagai tempat penghormatan kepada Dewa Bumi. Pola penataan ruang bangunan dan perlengkapan ritual tergolong unik dengan disertai benda kuno berupa tandu yang tidak dimiliki oleh kelenteng atau vihara lainnya.

Letak bangunan, arsitektur, dan ornamen cetiya memiliki nilai dan makna filosofis bagi pendiri dan bagi etnis Tionghoa ditinjau dari segi tata aturan umum arsitektur bangunan Tiongkok serta aturan feng shui. Bangunan Cina akan menerapkan aturan umum arsitektur Tiongkok yang pada umumnya dapat diketahui karena berdekorasi mewah, susunan warna dan motif dekorasi didasarkan pada lambang-lambang yang mengandung pengertian dan seni keindahan. Atap, bubungan, balok-balok, tiang-tiang penyangga, dan penahan lantai, memiliki lambang yang menggambarkan harapan baik. Arsitektur bangunan Tiongkok termasuk kelenteng memiliki komponen bagian dasar, tubuh dan atap yang dapat dilihat dari denah bangunan, pola penataan ruang, langgam dan gaya, serta dua konsep ruang yakni ruang sakral dan ruang profan. Terdapat dua model dasar kuil Cina yakni kung atau istana dan miu (miao). Model kuil adalah lapangan terbuka yang lebar dengan altar berada pada pusat dengan sepanjang dinding utara terdapat lebih dari tiga altar. Sedangkan miu merupakan bangunan yang terdapat lubang di atas sebagai pusat dengan altar utama berada di tengah pada dinding belakang.

Fengshui merupakan aturan penempatan letak gedung dan bangunan Cina buatan manusia agar seimbang dan menguntungkan dengan lingkungan fisik di sekitarnya. Bangunan Cetiya Dewi Samudera sampai sekarang masih dimanfaatkan oleh etnis Tionghoa sebagai tempat aktivitas keagamaan dan berinteraksi dengan sesama umat di cetiya tersebut. Aturan fengshui dalam pembangunan kelenteng diwujudkan dalam ukuran ruang, pemberian warna, dan urutan rangkaian pembangunan. Aturan dasar fengshui yang digunakan dalam pembangunan kelenteng yakni dalam: (1) Konstruksi atap dengan dekorasi naga, burung hong, atau binatang lainnya yang digabungkan dengan desain bubungan, (2) Pemberian warna seperti warna kuning, hijau, dan biru yang memiliki simbol kekuatan, panjang umur, dan rahmat Tuhan, (3) Penomoran ruang secara tepat dengan menggunakan nomor baik berupa angka 1, 5, dan 9. Pedoman dalam menentukan fengshui di antaranya Qi, prinsip Yin Yang, dan Wu Xing (lima unsur).

Kelenteng memiliki ornamen sebagai elemen pelengkap dalam karya arsitektur sehingga menarik. Ornemen kelenteng juga menjadi sarana penyampaian konsep, ajaran, dan falsafah dalam kehidupan masyarakat. Ornamen bangunan Tiongkok biasanya terdiri dari ornamen bermotif hewan, tumbuhan, fenomena alam, lambang geometris, dan tokoh. Pada pusat atap terdapat ornamen naga dengan mutiara, dragon horse, qilin, ikan emas, fu lu sou (trhee star gods), na cha, pagoda, dan guards (labu Cina).

Penelitian maupun penulisan buku, khususnya buku teks, tentang kelenteng telah dilakukan oleh beberapa orang peneliti dan penulis. Akan tetapi, penelitian dan penulisan buku teks tersebut lebih banyak memfokuskan pada kelenteng di Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah. Erisca misalnya, melakukan kajian dengan judul “Tinjauan Arsitektural dan Ornamentasi terhadap Kelenteng Tanjung Kait”. Hasil kajian ini menjelaskan bahwa dari segi arsitektural, Kelenteng Tanjung Kait tidak sepenuhnya mengikuti aturan-aturan umum dan aturan feng shui. Sedangkan kelenteng di luar Pulau Jawa masih sedikit informasinya. Kleinsteuber & Maharadjo memberikan informasi singkat tentang sejarah kelenteng-kelenteng kuno di Indonesia termasuk di Kalimantan Barat, tepatnya di Singkawang melalui buku Kelenteng-kelenteng Kuno di Indonesia.

Mengingat masih terbatasnya kajian tentang kelenteng, karena itu penelitian ini mengangkat Cetiya Dewi Samudera Singkawang Kalimantan Barat. Aspek-aspek tata letak, bahan bangunan, arsitektur, ornamen, teknik pendirian bangunan cetiya ini juga perlu dikaji lebih lanjut untuk memperoleh data arsitektur bangunan; mengetahui penerapan aturan umum dan aturan feng shui pada arsitektur bangunan; mengungkap makna filosofis arsitektur maupun artefak tersebut; serta untuk mengetahui pemanfaatan cetiya sejak awal berdiri sampai saat ini.

Dari segi metodologi, penelitian ini adalah arkeologi religi yang sasaran utamanya adalah bangunan keagamaan, yaitu Cetiya Dewi Samudera Singkawang Kalimantan Barat. Pendekatan yang digunakan adalah arkeologi kontekstual interpretative, dengan memandang benda arkeologi Cetiya Dewi Samudera beserta artefak di dalamnya memiliki nilai kontekstual, yaitu fungsi, susunan atau pola, dan tingkah laku masyarakat pada masa itu dan masa sekarang. Penelitian ini dilakukan selama enam bulan sejak bulan Februari sampai dengan Juli 2013, di Cetiya Dewi Samudera (Tri Dharma Bumi Raya) yang beralamat di Jl. Saman Bujang No. 29 Kelurahan Pasiran, Kecamatan Singkawang Barat, Kota Singkawang, Kalimantan Barat.

Adapun tahapannya, penelitian dilakukan melalui tiga tahap yaitu: pengumpulan data (observasi), pengolahan data (deskripsi), dan penafsiran data (eksplanasi). Data penelitian berupa catatan tertulis hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sumber data terdiri atas data primer berupa bangunan dan data sekunder berupa data pendukung berkaitan arsitektur dan pemanfaatan Cetiya Dewi Samudera Singkawang Kalimantan Barat. Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan literatur, serta penggalian sumber melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pengolahan data dilakukan dengan mendeskripsikan dan merinci bentuk arsitektur Cetiya Dewi Samudera Singkawang Kalimantan Barat mencakup deskripsi aturan umum arsitektur bangunan Tiongkok dan aturan feng shui beserta deskripsi ornamen. Penafsiran terhadap data yang diperoleh dilakukan dengan menggunakan analisis bentuk, analisis khusus, dan analisis kontekstual.

Konteks Sosial Cetiya Dewi Samudera
Kota Singkawang terletak di bagian utara Provinsi Kalimantan Barat di antara Kabupaten Sambas dan Bengkayang 148 km arah Timur Laut dari Kota Pontianak, berbatasan dengan Kabupaten Sambas dan Kabupaten Bengkayang.

Nama Kota Singkawang diperkirakan berasal dari bahasa Hakka yakni San Kheu Yong Shan-gunung (bhs. Mandarin), Kou (mulut singa), Yang (lautan).

Singkawang pada masa lalu merupakan desa bagian Kesultanan Sambas sebagai tempat singgah para pedagang emas dari China menuju Monterado dan sebaliknya.

Singkawang menjadi daerah otonom yang diresmikan sejak tanggal 17 Oktober 2001. Secara geografis, Kota Singkawang terletak pada 00 44’ 55,85” -10 1’ 21,51” Lintang Utara dan 1080 51’ 47,6” – 1090 10’ 19” Bujur Timur, dengan batas wilayah utara Kecamatan Selakau Kabupaten Sambas, selatan Kecamatan Sungai Raya Kepulauan Bengkayang, timur Kecamatan Samalantan Kabu-paten Bengkayang dan Barat Laut Natuna.

Jumlah penduduk Kota Singkawang berdasarkan data tahun 2011 sebanyak 232.936,16 dengan kepadatan penduduk sebesar 379 jiwa perkilometer persegi. Sedangkan data dari sensus agama Kementerian Agama sebanyak 253.244 jiwa. Adapun komposisi penduduk menurut agama, yaitu pemeluk agama Islam berjumlah 115,246 (48,99 %); agama Buddha 89,617 (38,10 %), agama Katolik 17,827 (7,58 %), agama Kristen 12,086 (5,14 %), aliran kepercayaan 278 (0,12 %), agama Konghucu 101 (0,04 %); dan agama Hindu 89 (0,04 %) dari total penduduk Singkawang yang berjumlah 253.244 jiwa.

Sejarah Berdirinya Cetiya Dewi Samudera
Cetiya Dewi Samudera atau Cetiya Tri Dharma Bumi Raya terletak di Jl. Saman Bujang No. 29 Kota Singkawang Kalimantan Barat. Secara administratif berada di wilayah Kelurahan Pasiran, Kecamatan Singkawang Barat, Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Sebelah utara bangunan berbatasan dengan Jalan Saman Bujang, timur berbatasan tanah kosong, barat merupakan rumah toko, dan selatan berbatasan dengan gudang.

Cetiya Dewi Samudera dibangun pada tahun 1873 sehingga termasuk bangunan bersejarah tetapi yang belum memiliki status sebagai Benda Cagar Budaya (BCB). Cetiya ini terdaftar di Kantor Kementerian Agama Kota Singkawang dengan nomor tanda daftar BA.01.1/025/VIII/2013. Organisasi yang menaungi cetiya adalah Keluarga Besar Umat Tri Dharma (KBUT) Kota Singkawang dan Yayasan Dharma Buddha Wali Pulina.

Pendirian bangunan cetiya diperkirakan bersamaan dengan munculnya pasar ketika Singkawang menjadi tempat persinggahan para pedagang dari dan ke Monterado. Singkawang pada masa lalu menjadi tempat bongkar muat barang dengan pelabuhan sungai Singkawang sekarang di Kawasan Kampung Tradisional Jl. Setia Budi No 36. Pendiri bangunan yang diperkirakan keluarga peda-gang jaman kongsi, merupakan orang sama yang membangun gudang dan rumah tradisional di Kawasan Kampung Tradisional.

Deskripsi seputar Cetiya Dewi Samudera

Halaman dan Teras
Halaman cetiya berbentuk persegi panjang berukuran 18 m x 9 m dengan gapura bercorak paduraksa berumpak persegi empat dan bermotif bunga teratai. Tiang gapura berbentuk persegi empat bercat merah, kuning, hijau, biru muda, dan merah muda; beratap tipe pelana; bubungan berujung lancip dan dinding atap gapura lurus (straight). Bangunan pendukung berupa tempat pembakaran kertas berbentuk pagoda persegi enam, beratap piramida tujuh tingkat, dengan bubungan atap berujung meliuk (curling end) dan berhias labu china (gourds). Bangunan pendukung berupa dua bangunan altar saling berhadapan di sebelah barat halaman. Atap bangunan altar di Timur Laut berbentuk piramida yang ditopang satu tiang, sedangkan bangunan altar di Barat Daya beratap tipe kombinasi jurai dan pelana dengan pondasi dan lantai keramik. Teras cetiya berlantai keramik merah berukuran 10 x 10 cm berben-tuk bujur sangkar, dengan bagian sayap kanan dan kiri teras terdapat ruangan menjorok keluar berdinding papan warna kuning. Dua tiang serambi bercat merah dengan atap seng bercat merah sebagai ujung atap cetiya yang lancip.

Arah hadap bangunan utama adalah Timur Laut, yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran 18,3 m x 9 m. Denah bangunan simetris tipe tiga ruang atau Siheyuan dengan tambahan halaman (impluvium/courtyard) dan podium persegi pada ruang utama. Lantai ruang masuk dan ruang tengah merupakan keramik merah berukuran 10 x 10 cm bermotif simbol I Ching. Lantai ruang utama terbuat dari kayu belian berbentuk persegi panjang dengan ukuran 100 cm x 15 cm yang disusun berbanjar tiga.

Tubuh bangunan terdiri dari dinding, pintu, dan tiang kayu belian. Dinding cetiya disusun menggunakan penyambung kayu. Pintu utama berukuran 1,4 m x 2,53 m diapit dua pintu berukuran 1 m x 2,29 m, yang menggunakan balok kayu sebagai kunci. Tiang bangunan berbentuk persegi empat terletak di ruang masuk berjum-lah dua, di ruang tengah berjumlah empat dan enam tiang persegi delapan di ruang utama. Denah bangunan bertipe tiga ruang, ruang masuk berukuran 4,29 m x 8,75 m sebagai tempat pendaftaran dan menyimpan perlengkapan peribadatan. Ruang tengah sebagai hala-man (impluvium) dengan tempat pembakaran dupa (hiolo) dari tem-baga kuning di tengah halaman. Ruang utama berpondasi dengan tangga bertingkat tiga memiliki: (1) empat altar; (2) payung; (3) dua tandu; (4) lonceng kecil; (5) lonceng besar; (6) tambur; (7) simbol senjata; (8) lampion; (9) tempat lentera; dan (10) lemari penyimpan tandu.

Empat altar di ruang utama terbuat dari kayu belian bercat merah sebagai altar utama dan altar pendukung. Satu altar di barisan depan dan tiga di barisan belakang. Satu altar barisan depan berusia lebih muda dari altar barisan belakang yang berfungsi sebagai altar utama untuk menghormat Dewi Samudera. Tiga altar barisan belakang merupakan altar utama dan altar pendukung yang dilindungi oleh korden merah dan bingkai kayu bertuliskan aksara Cina. Satu altar tengah pada barisan belakang sebagai altar utama dengan objek arca Dewi Samudera berusia paling tua dibanding altar lain, dilengkapi arca pengawal, sepasang patung singa dan hiolo marmer. Dua altar di kiri (timur) dan kanan (barat) altar utama merupakan altar pendukung untuk menghormat Buddha, Bodhisattva dan Dewa. Altar sebelah kiri (timur) untuk memuja Lou Tzu, Lu Fu Shou dan Dewa Er Lang Shen, sedangkan altar sebelah kanan (barat) untuk memuja Dewi Kwan Im, Buddha Sakyamuni dan Buddha Maitreya. Bagian bawah altar utama ba-risan belakang digunakan untuk memuja Dewa Bumi.

Atap cetiya terbagi menjadi tiga, yaitu di ruang masuk, di ruang tengah pada sayap kanan dan kiri impluvium, dan di ruang utama. Atap bangunan berbentuk pelana dengan tiang-tiang kayu (overhang gable roof with wooden truss/hsuan shan), bubungan bertipe lancip (end of straw). Konstruki bangunan menggunakan sistem V dan dinding samping menggunakan sistem V terbalik.

Bangunan cetiya didirikan menggunakan sistem struktur rangka kerangka balok dan penyangga atap sebagai dou gong yang me-nyambung ke jurai dan peran (gording) atap. Bagian pangkal balok penyangga atap samping kanan dan kiri bertingkat empat yang menyambung ke jurai dan peran (gording) atap, dan langit-langit ruang utama berupa papan kayu bercat kuning.

Ikonografi
Arca atau panthoen dewa dewi yang dipuja di Cetiya Dewi Samudera Singkawang Kalimantan Barat yakni Arca Dewi Samudera beserta para pengawal dan pelayannya, Lao Tzu, Dewa Tiga Bintang atau Lu Fu Shou atau Fu Lu Shou Sanxing terdiri dari arca Shou (umur panjang), Lu (kekayaan) dan arca Fu (keber-untungan); Buddha Sakyamuni; Dewi Kwan Im; Buddha Maitreya; Dewa Penjaga. Dewa Bumi, dan Dewa Penjaga yang berupa simbol dan gambar dewa.

Artefak
Artefak yang terdapat di Cetiya Dewi Samudera terdiri dari hiolo, patung singa, altar, bingkai altar, simbol kuno, tempat lentera, lonceng merah, tandu, dan papan kayu. Hiolo kuno terbuat dari marmer berornamen naga yang diapit dua patung singa ber-warna kuning keemasan. Altar kuno pada barisan belakang bagian tengah dilindungi korden merah serta dibingkai kayu berlapis tiga berornamen daun, bunga, aksara Cina, simbol yin yang, naga, awan, dan air. Simbol kuno di sebelah kiri (timur) altar utama Dewi Samudera terdiri dari dua kampak berkepala singa, tangan memegang kuas, dua kepala naga, dan stempel berbentuk biji teratai, sedangkan simbol di sebelah kanan (barat) altar berupa panji-panji. Artefak-artefak lainnya adalah tempat lentera, lonceng, tandu, dan papan kayu pada tiang bagian depan.

Ornamen
Ornamen berada pada gapura, bangunan pendukung, serambi, ruang masuk, ruang utama, atap, altar, dan pada artefak kuno. Ornamen cetiya terdiri dari kaligrafi beraksara Cina; kepala burung hong; awan; bunga; sulur-sulur; tumbuh-tumbuhan; meander; lukisan manusia; ikan dan ekor ikan; vas bunga; bentuk geometri yin yang; binatang mitos, benda alam; simbol: kipas, kertas (kitab), alat musik kastanyaet, seruling, dan bulu ayam; naga, kepala kala, teratai, kelelawar, sempoa, gambar Kong Hu Cu, lukisan Dewi Kwan Im, dan dewa penjaga (men shen).

Kegiatan
Cetiya Dewi Samudera Singkawang Kalimantan Barat digunakan oleh umat Buddha sekte Tri Dharma untuk beribadah setiap hari ketika akan berlayar, menangkap ikan, bepergian, ataupun ketika akan melakukan kegiatan sehari-hari. Pada tanggal 1 dan 15 bulan lunar atau ce it dan cap go, Tahun Baru Imlek (Cap Go Meh) dan pada perayaan ulang tahun Dewi Samudera umat juga melakukan ibadah. Ibadah dilakukan dengan membakar hio dan uang-uangan kertas, dan membawa persembahan altar berupa buah-buahan, manisan, dan makanan vegetarian.

Pemanfaatan Cetiya dalam Penyebaran Agama
Cetiya Dewi Samudera dimanfaatkan sebagai tempat periba-datan umat Buddha sekte Tri Dharma. Cetiya tidak memiliki ruang khusus untuk ceramah kepada umat, sehingga pengurus cetiya me-lakukan pembinaan mental spiritual, sikap kebangsaan, kerukunan beragama, dan dalam menanamkan nilai-nilai ajaran dalam Tri Dharma kepada umat. Pembinaan dilakukan ketika upacara keaga-maan seperti dalam perayaan ulang tahun Dewi Samudera pada hari Kamis, tanggal 2 Mei 2013. Hasil pembinaan diharapkan dapat menciptakan kerukunan beragama di sekitar cetiya maupun di Kota Singkawang.

Makna Arsitektur dan Artefak Cetiya Dewa Samudera

Analisis Bangunan, Arsitektur, dan Ornamen
Bangunan Cetiya Dewi Samudera yang diperkirakan dibangun pada tahun 1873 memiliki bangunan pendukug di halaman yang dibangun pada tahun 1990-an dan 2000-an awal. Pembangunan cetiya tidak mematuhi aturan umum arsitektur Tiongkok berjumlah 4 (11,43%) dan yang dipatuhi berjumlah 31 (88,57%) dari 35 aturan. Aturan yang tidak dipatuhi adalah tidak ada dinding yang diisi bata; tidak terdapat dinding; tidak terdapat dinding padat pada bagian utara; dan atap tidak beratap genteng berglasir. Hal lain yang kurang sesuai di antaranya: arah hadap bangunan, ruang utama; balok mahkota sederhana; dan hanya dua tiang yang dilindungi plester bercat kuning.

Cetiya berdenah simetris dengan arah orientasi Timur Laut dan Barat Daya dan telah menghindari arah Barat Laut dan Tenggara sebagai arah kejahatan. Bangunan cetiya bertipe halaman (courtyard) dengan jenis siheyuan terdiri dari tiga ruang bertipe dasar sanheyuan. Halaman cetiya berpagar utama tanpa mengikuti sumbu utara selatan dan tanpa pintu penutup. Halaman (impluvium) berfungsi sebagai ruang penghormatan terhadap Thian. Ruang utama cetiya berdiri di atas podium sebagai tanda adanya perbedaan status antara ruang profan dan sakral. Area cetiya terbagi menjadi profan, semi sakral, dan sakral. Area profan berupa gapura di hala-man, area semi sakral di tempat pembakaran kertas hingga ruang halaman (impluvium), dan area sakral di ruang utama. Tubuh cetiya bertipe tiga ruang dengan pola penataan ruang bagian dalam sebagai halaman (courtyard, impulvium, atau sky well).

Ruang cetiya terdiri dari ruang masuk, ruang tengah sebagai halaman, dan ruang suci utama yang memiliki makna penghormat-an terhadap Tuhan (Thian), Bodhisattva, dan Dewa. Bangunan cetiya dibangun dengan sistem kerangka balok dari tiang kayu ber-bentuk persegi empat dan delapan dengan bracket sebagai peno-pang atap. Dinding bangunan terbuat dari kayu belian yang dipa-sang tanpa paku besi dan tanpa diisi bata, mengelilingi kerangka bangunan yang berhubungan langsung dengan atap (overhang). Bagian muka dinding dihias simbol prajurit dan burung hong. Tiang atap berbentuk persegi delapan disambungkan dengan kuda-kuda menggunakan mahkota sederhana.

Pintu cetiya berjejer tiga dengan pintu utama berornamen dewa penjaga (men shen) dan dua pintu kecil mengapitnya. Atap cetiya berbentuk landai bertipe pelana dengan tiang-tiang kayu (overhang gable roof with wooden truss) dan bubungan atap bercat kuning berbentuk lancip (end of straw). Lengkung atap dan kuda-kuda pelana ditopang jajaran tiang dari balok kayu bundar dan persegi beratap seng merah. Langit-langit cetiya berwarna kuning keemasan ditopang tiang dengan sistem mahkota sederhana. Arca diletakkan pada altar berornamen di pusat ruangan dengan arca Dewi Samudera berada di bagian tengah.

Penerapan aturan feng shui pada cetiya dikelompokkan berdasarkan arah, konstruksi bangunan, penggunaan angka ganjil, penempatan ruang, penggunaan simbol-simbol, letak bangunan, dan penggunaan warna. Terdapat 17 (60,71%) aturan fengshui yang dipatuhi dan 11 (39,29%) dari 28 aturan yang tidak sepenuhnya dipatuhi. Aturan feng shui yang dipatuhi di antaranya: memiliki pagar dan pintu gerbang; dekat dengan sumber air; menghadap ke arah sungai Singkawang mengalir; dibangun pada kavling tanah berbentuk persegi panjang; memiliki ruang terbuka di depan bangunan; beratap landai; mahkota dou gong berwarna merah; langit-langit ruang utama berwarna kuning keemasan dan agak kecoklatan; memiliki tiga anak tangga; pilar berwarna merah; penggunaan warna merah, putih, kuning, dan biru pada bangunan dan artefak; memiliki tiga ruangan; memiliki impulvium; ruang pemujaan utama; adanya simbol I Ching; dan dibangun dengan menghindari hawa sha ch’i.

Aturan feng shui yang tidak dipatuhi adalah pintu masuk dan bangunan tidak menghadap ke arah selatan (Li); tidak didirikan pada tanah tinggi berbukit, bergelombang atau berkelok; tidak menghadap lahan kosong dan bagian depan bangunan tidak lebih tinggi dari bagian belakang; tidak digantungi simbol 8 pa kua tetapi terdapat simbol yin yang; atap tidak berornamen dan tidak berwarna kuning; tidak ada dinding solid berwarna merah; dan atap tidak terbuat dari genteng.

Arah hadap bangunan dan pintu masuk Cetiya Dewi Samudera meskipun tidak mengikuti aturan fengshui, yaitu menghadap ke arah Selatan (Li), tetapi arah hadap Timur Laut telah menghindari arah Barat Laut – Tenggara sebagai arah kejahatan. Arah Timur Laut yang menghadap ke matahari mengharapkan agar manusia berbuat baik sehingga bersinar menerangi orang lain. Letak cetiya yang berhadapan langsung + 1 km dengan Vihara Tri Dharma Bumi Raya Pusat Kota yang berfungsi sebagai tempat pemujaan dewa bumi dan berpondasi lebih tinggi dari cetiya, dapat dianalisis bahwa antara vihara dan cetiya memiliki hubungan erat, yakni antara bumi dan air. Pagar besi berwarna kuning dan gapura paduraksa yang me-lindungi cetiya, dalam aturan feng shui berfungsi sebagai pembatas area profan dan sakral. Lokasi pendirian bangunan pada kavling persegi panjang berhalaman (impulvium) di depan bangunan dan ruang tengah berfungsi sebagai pemelihara keseimbangan dan keselarasan, perwujudan mikro dan makrokosmos, dan tempat menam-pung air hujan. Pendirian bangunan menerapkan penggunaan angka ganjil, yaitu angka tiga pada jumlah tangga dan ruang. Angka tiga yang disebut san atau thoi sebagai lambang penghormatan terhadap Thian, Bodhisattva, dan dewata. Ruang pemujaan utama diperun-tukkan bagi penghormatan Dewi Samudera.

Simbol pada cetiya menunjukkan adanya penerapan feng shui meskipun tidak sepenuhnya dipatuhi. Simbol I Ching pada ubin sebagai lambang yin yang dan simbol yin yang pengganti 8 pa kua di dalam persegi berbentuk jajaran genjang pada pintu masuk berfungsi sebagai penangkal pengaruh buruk dari luar. Penerapan feng shui pada letak dan pendirian bangunan diterapkan pada garis lusur dan sudut tajam berupa Jalan Sejahtera untuk menghindari hawa sha ch’i. Unsur naga pembangunan cetiya terletak pada posisi bangunan yang berdekatan dengan sumber air, yaitu sungai Singkawang pada jarak + 1 km arah Timur Laut. Hal ini memiliki makna sebagai sumber kemakmuran.

Penerapan feng shui pada warna-warna belum sepenuhnya dipatuhi, karena lantai cetiya seharusnya berwarna biru tetapi lantai cetiya ini berwarna merah dan hitam kecoklatan (lantai kayu). Atap bangunan yang seharusnya kuning diberi warna merah dan dengan bubungan atap berwarna kuning yang bermakna kebesaran, keku-asaan dan optimisme. Warna-warna yang sesuai aturan feng shui adalah kuning, merah, putih, dan biru. Warna kuning bermakna kebesaran, kekuasaan atau kekaisaran; putih bermakna kesuksesan dan kejernihan pikiran dan unsur logam; biru melambangkan kebijaksanaan dan ketekunan.

Ornamen cetiya diklasifikasikan ke dalam motif hewan (fauna), tumbuhan (flora), orang/tokoh, lambang geometris, motif benda, dan fenomena alam. Masing-masing ornamen dilapisi cat yang didominasi salah satu atau beberapa dari warna merah, kuning (emas), hijau, dan biru. Ornamen hewan (fauna) meliputi ornamen naga, kelelawar, ikan dan ekor ikan, singa, dan burung hong yang memiliki makna tinggi dan menjadi sarana penyampaian konsep, ajaran, dan falsafah sebagai harapan baik dalam kehidupan masyarakat.

Ornamen naga merupakan simbol penjagaan, kewaspadaan, kekuatan, kesuburan; dan lambang laki-laki (Yang). Ornamen kele-lawar atau tikus surga melambangkan kebahagiaan dan umur pan-jang. Ornamen ikan sebagai anak buah Dewi Samudera memiliki makna pembawa keberuntungan, kekayaan, keberlimpahan, dan untuk mengusir roh jahat. Ornamen burung hong sebagai lambang perempuan pendamping naga yang bermakna keberuntungan, ke-makmuran, atau keselamatan. Ornamen singa sebagai lambang keberanian, tenaga, dan kebijaksanaan.

Ornamen flora terdiri atas bunga, sulur-sulur, dan meander. Ornamen bunga mawar melambangkan umur panjang. Ornamen sulur-sulur daun dan bunga serta meander kemungkinan berfungsi untuk memperindah. Ornamen orang atau tokoh terdiri atas Dewa Er Lang Shen, Dewi Kwan Im, Dewa Penjaga Pintu, dan masyarakat/prajurit, sebagai bentuk penghormatan dan permohonan perlindungan.

Ornamen lambang geometris yin yang bermakna menjaga dari pengaruh buruk. Ornamen simpul mistik sebagai simbol umur panjang. Ornamen kaligrafi berisi slogan atau syair puji-pujian dan syair pencerahan, simbol keabadian, labu cina, bagian dari empat simbol kepandaian yaitu gulungan kertas/pusaka dan bulu ayam, delapan simbol keabadian berupa vas bunga, alat musik kastanyet, dan tongkat ketiak, kipas, bunga teratai dan simbol biji teratai. Labu cina melambangkan misteri dan komunikasi dengan arwah. Dela-pan simbol keabadian menggambarkan keadaan dalam kehidupan manusia. Ornamen fenomena alam terdiri atas matahari dan awan. Simbol matahari melambangkan bahwa manusia harus berbuat kebaikan sehingga menyinari dunia, serta melambangkan kekuatan yang aktif. Ornamen gulungan kertas/kitab dan bulu ayam merupa-kan lambang kepandaian. Cetiya Dewi Samudera pada awal pendirian dimanfaatkan sebagai miu/miou untuk menghormati Dewi Samudera agar melin-dungi setiap orang yang akan berlayar. Hal ini sesuai dengan asal mula etnis Tionghoa yang tinggal di Singkawang, pemanfaatan Singkawang sebagai tempat bongkar muat barang, dan mata pencaharian pendatang dari Tiongkok yang beralih profesi sebagai nelayan. Fungsi cetiya saat ini dimanfaatkan oleh nelayan dari Kelurahan Kuala di Singkawang Barat dan siapa saja yang memi-liki kepentingan untuk beribadah terutama umat Tri Dharma yang datang dari dalam maupun luar Singkawang, bahkan dari negara lain seperti Taiwan. Peribadatan dilakukan pada pagi dan sore hari, setiap tanggal 1 (ce it) dan 15 (cap go) kalender lunar, juga untuk merayakan Tahun Baru Imlek dan Ulang Tahun Dewi Samudera.

Makna Artefak
Artefak di Cetiya Dewi Samudera terdiri atas arca Dewi Samudera beserta pengawalnya, hiolo dan patung singa, bingkai altar, altar, simbol, tempat lentera, lonceng, tandu, dan papan kayu biru muda bertuliskan aksara Cina. Arca Dewi Samudera merupa-kan wujud penghormatan etnis Tionghoa yang akan berlayar agar dilindungi. Arca dua pengawal Dewi Samudera melayani dewi keti-ka membutuhkan surat izin dan stempel, sedangkan Dewa Pende-ngar dan Dewi Penglihatan melayani Dewi untuk mendengar dan melihat mereka yang membutuhkan pertolongan.

Hiolo berornamen naga merupakan tempat pembakaran hio untuk menghormati dewa. Patung singa pengapit hiolo melambang-kan kekuatan agung dan keberanian yang menjaga nama baik Dewi Samudera. Altar kayu belian berwarna merah melambangkan keba-hagiaan, kegembiraan, dan energik. Altar susun dan ruang berjum-lah tiga memiliki makna penghormatan terhadap Tuhan (Thian), Bodhisattva, dan Dewata.

Simbol kuno berupa biji teratai, kepala naga, burung hong pada kepala kapak, dan kuas, secara berurutan memiliki makna biji atau buah kesucian; simbol penjagaan dan kewaspadaan, keberuntungan, kekayaan, keberlimpahan, dan mengusir roh jahat; simbol keberuntungan, kemakmuran, atau keselamatan; dan simbol kepan-daian. Tempat lentera kuno selain berfungsi melindungi lentera dari angin, secara filosofi lentera sebagai penerangan dari kegelapan.

Lonceng merah berornamen bunga teratai dan tulisan beraksara Cina memiliki makna telah dibukanya pintu kebajikan atau kesucian dan akan dimulainya ritual suci. Suara lonceng dan tulisan beaksara Cina akan ikut terpukul dan seolah syair-syair akan ber-bunyi nyaring. Tandu berfungsi sebagai tempat arca Dewi Samu-dera dan persembahannya ketika acara Ceng Beng. Ornamen pada tandu merupakan ungkapan rasa bangga, senang, dan penghormatan terhadap Dewi Samudera. Papan kayu biru muda bertuliskan aksara Cina berisi syair-syair pujian atau slogan-slogan berisi ajaran keba-jikan untuk dipraktikkan.

Penutup
Bangunan utama Cetiya Dewi Samudera dibangun pada tahun 1873. Pada bagian halamannya kemudian dibangun bangunan pendukung pada tahun1990-an dan 2000-an awal. Dari segi arsitektur, cetiya ini tidak sepenuhnya mengikuti aturan umum arsitektur bangunan Tiongkok. Demikian juga dengan aturan feng shui tidak sepenuhnya diterapkan. Aturan umum arsitektur Tiongkok yang diterapkan antara lain terdapat pada arah hadap denah, tubuh bangunan, tipe ruangan, dinding, tiang, pintu, balok mahkota, dan atap bangunan. Sedangkan aturan umum arsitektur Tiongkok yang tidak diterapkan meliputi tidak adanya dinding yang diisi bata; tidak terdapat dinding padat pada bagian utara; dan atap tidak ditutupi genteng berglasir. Penerapan aturan feng shui pada Cetiya Dewi Samudera dikelompokkan berdasarkan arah, konstruksi bangunan, penggu-naan angka ganjil, penempatan ruang, penggunaan simbol-simbol, letak bangunan, dan penggunaan warna. Aturan feng shui yang tidak diterapkan adalah bangunan dan pintu masuk menghadap ke arah Timur Laut bukan ke arah selatan (Li); tidak didirikan pada tanah tinggi berbukit dan bergelombang atau berkelok; tidak menghadap lahan kosong dan bagian depan bangunan tidak lebih tinggi dari bagian belakang; tidak digantungnya simbol 8 pa kua tetapi terdapat simbol yin yang; atap tidak berornamen dan tidak berwarna kuning; tidak ada dinding solid berwarna merah; dan atap tidak terbuat dari genteng.

Ornamen yang digunakan di Cetiya Dewi Samudera diklasi-fikasikan berdasarkan motif hewan (fauna), tumbuhan (flora), orang/tokoh, lambang geometris, motif benda, dan fenomena alam, yang dilapisi cat berwarna merah, kuning (emas), hijau, dan biru.

Aturan umum arsitektur Tiongkok, aturan feng shui, dan ornamen bangunan yang memiliki makna dan filosofis tinggi masih dipertahankan pengurus cetiya. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kelestarian dan kekayaan seni, budaya, dan warisan leluhur etnis Tionghoa di Singkawang.

Cetiya Dewi Samudera pada masa pendiriannya dimanfaatkan sebagai miu untuk memuja atau menghormati, dan sebagai tempat untuk meminta perlindungan kepada Dewi Samudera selama berlayar. Pada masa sekarang, cetiya dimanfaatkan sebagai tempat peribadatan dan tempat pembinaan umat untuk terciptanya kerukunan beragama.

Cetiya Dewi Samudera merupakan bangunan rumah ibadah umat Buddha Tri Dharma dan tergolong sebagai living monument karena masih dimanfaatkan sebagai tempat aktivitas keagamaan masyarakat etnis Tionghoa di Singkawang maupun luar Singkawang dan luar negeri. Sebagai living monument yang berusia ratusan tahun seharusnya Cetiya Dewi Samudera mendapatkan status Benda Cagar Budaya. Oleh karena itu, perlu direkomenda-sikan agar bangunan Cetiya Dewi Samudera dapat dijadikan seba-gai Benda Cagar Budaya (BCB) yang harus dilindungi, dipelihara, dan dimanfaatkan sesuai dengan Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik Kota Singkawang. 2012. Statistik Daerah Kota Singkawang 2012. Singkawang: Badan Pusat Statistik Kota Singkawang.

Chamberlain, Jonathan. 2009. Chinese Gods: An Introduction to Chinese folk Feligion. London: Blacksmith Books.
Kankemenag Kota Singkawang. 2012. Data Kantor Kementerian Agama Kota Singkawang dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Singkawang tahun 2012.

Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Kelenteng Kuno di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Erisca, Nandita. 2008. Kelenteng Tanjung Kait (Tinjauan Arsitektural dan Ornamentasi). Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indoenesia (UI).

Kleinsteuber, Asti & Maharadjo, Syafri M. 2010. Kelenteng-Kelenteng Kuno di Indonesia. Jakarta: Genta Kreasi Nusantara.

Suryatenggara, Stefanus Hansel. 2011. Kelenteng Boen Tek Bio Tangerang: Kajian Arsitektural. Skripsi pada Program Studi Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI) Depok.

Kumar Dipak Baru?. 1969. Vih?ras in Ancient India (a Survey of Buddhist Monasteries). Calcutta: Indian Publication.

Pemerintah Kota Singkawang. Database Kota Singkawang 2011, (http://www.singkawangkota.go.id/ diakses pada hari Selasa, 29 Mei 2013, pukul 01.16 WIB

Pemerintah Kota Singkawang. 2011. Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD) tahun 2011.

Purwanto, Hari. 2005. Orang China Khek dari Singkawang. Depok: Komunitas Bambu.

Yoest. 2009. Riwayat Kelenteng, Vihara, Lithang di Jakarta dan Banten. Jakarta: PT Buana Ilmu Populer.

Sumber:
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=330062&val=7707&title=Arsitektur%20Cetiya%20Dewi%20Samudera%20Singkawang%20Kalimantan%20Barat